Pages

Selasa, 14 Desember 2010

dari gerakan mahasiswa ke partai politik

Bismillah Alhamdulillah wa Syukurillah. Puji dan syukur tak henti-hentinya di panjatkan kepada junjungan pemberi nikmat dan yang maha memiliki. Sang maha abadi. Allah Subhanallahu wa ta’ala, yang tidak pernah menyia-nyiakan siapapun yang mengharapkan keridhoan-Nya, dan tidak pernah menampik siapapun yang berdo’a kepada-Nya. Segala puji hanya milik-Nya, yang dengan segala taufik dan pertolongan-Nya semata apapun wujud kepentingan pasti dapat dilaksanakan dengan sempurna. Salawat beserta salam juga tidak lupa dihaturkan kepada sebaik-baiknya idola dan sebaik-baiknya suri tauladan. Nabi Salallahu’alaihi wa salam, kepada keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang berkontribusi di jalan dakwahnya sehingga kita, hari ini bisa menikmati indahnya islam dan iman dari Allah subhanallahu wa ta’ala.

Ibarat sebuah motor yang sedang dipanasi, begitulah mereka-mereka yang kini bergerak di sebuah pergerakan mahasiswa. Ibarat motor yang dibawa berjalan setelah dipanasi, begitulah mereka-mereka yang dulu berada di pergerakan mahasiswa dan kini berada di sebuah partai politik. Hal itu menjadi sebuah kewajaran, karena naluri meneruskan pergerakan yang sudah lama dibangun dari jaman mahasiswa dan diteruskan pembangunannya ketika sudah tidak lagi menyandang status mahasiswa dengan bergabung kepartai politik. Menjadi tidak wajar ketika aktif dipergerakan mahasiswa tetapi tidak melanjutkan kepartai politik manapun, ibarat motor yang telah dipanasi tetapi tidak dibawa berjalan. Sia-sia dan sangat disayangkan. Tetapi tidak ada hubungan pasti atau kemestian antara salah satu pergerakan mahasiswa dengan salah satu partai politik. Karena itu adalah pilihan pribadi. Tidak ada kepastian sebuah pergerakan mahasiswa A pasti akan meneruskan ke sebuah partai politik AA walaupun dari luar terlihat seperti itu. walau memang logikanya seperti ini: sebuah pergerakan mahasiswa yang berlandaskan B dan bertujuan C juga akan memilih sebuah partai politik yang berlandaskan B dan bertujuan C pula, maka terlihat seperti sebuah kemestian padahal tidak. Misalnya sebuah pergerakan mahasiswa yang berlandaskan islam akan meneruskan pergerakannya ke sebuah partai islam pula, kecil kemungkinan yang meneruskan kepartai nasionalis apa lagi komunis. Tetapi sebagai orang yang berada disebuah pergerakan mahasiswa saya tidak begitu suka jika pergerakan mahasiswa dimana saya berada disangkutpautkan dengan sebuah partai politik, itu kalau sedang memakai nama organisasi, tetapi lain ceritanya jika saya sedang memakai nama pribadi, terserah saya mau mensangkutpautkan diri saya pada partai politik manapun, karena itu urusah pribadi bukan urusan organisasi.

Suatu ketika, dihari yang sama, saya sedang mengurusi amanah disebuah partai politik dan disore harinya saya sedang mengurusi amanah disebuah organisasi mahasiswa. Dan dihari yang sama pula disebuah diskusi sore bersama teman-teman dari organisasi mahasiswa tempat saya belajar, saya bersikeras untuk tidak menyangkutpautkan sebuah partai politik (yang tadi saya sedang mengurusi amanah didalamnya) dengan organisasi mahasiswa tempat saya belajar, padahal hari itu saya sedang bergelut dikeduanya. Bukan maksud hati ingin menjadi munafik (na’udzubillah) tetapi hanya ingin profesional bekerja. organisasi mahasiswa ya organisasi mahasiswa partai politik ya partai politik. Walaupun nantinya akan berkesinambungan, tetapi itupun bukan lembaganya tapi individunya.

Tentang sebuah organisasi atau partai yang kini atau nanti kita pilih. Pastikan pemilihannya bukan karena ikut-ikutan atau terbawa lingkungan, pastikan kita benar-benar mengenalnya, menumbuhkan pemahaman terhadapnya, pendirinya, pemimpinnya, perjalanan sejarahnya, arahnya, dan pandangan-pandangannya serta kekurangan dan kelebihannya. Sehingga kita akan meraih kekuatan tsiqah terhadap fikrah jama’ah serta rasa mencintai dan memiliki yang kuat.


Wallahu’alam bishawab

Senin, 22 November 2010

Ada Rasa



ya Allah...
dalam do'a ku panjatkan puji syukur padaMu..


Ya Rabbi..
aku tau, rasa sedih ini membuktikan betapa hati kami telah terpaut erat
ya Rabbul izzati..
aku yakin, air mata ini membuktikan kami saling menyayangi..

ya Allah yang maha kuasa yang maha menciptakan rasa...
begitu indah segala rasa yang Kau ciptakan dan kemudian berkenan Kau titipkan pada kami..
rasa sedih ini, adalah salah satu wujud cintaMu pada kami karena Kau memilih kami untuk merasakan rasa yang Kau ciptakan..

ya Rabbana yang maha bijaksana yang maha menciptakan suasana...
puji Syukurku panjatkan kehadiratMu atas perpisahan yang kau sematkan dalam perjalanan hidup kami..

ya Allah,
terimakasih tlah kau titipkan suasana perpisahan ini ..
ini menyadarkan bahwa Kau telah menganugrahkan pertemuan terlebih dahulu pada kami..

ya Muhaimin,
terimakasih Kau sematkan perpisahan ini ...
karena kami kembali teringat bahwa begitu indah kebersamaan yang tercipta dari pertemuan yang terlebih dahulu Kau berikan pada kami..

ya Rabbi,
terimakasih Kau berikan perpisahan ini..
karena akhirnya kami tau bahwa kami saling menyayangi..

ya Allah,
terimakasih Kau anugerahkan perpisahan ini..
karena kami jadi tau bagaimana rasanya berpisah..

ya Allah,
terimakasih Kau berikan perpisahan ini..
karena ini membuat kami sadar bahwa tak ada yang abadi di dunia ini..

ya Allah,
terimakasih telah Kau anugerahkan perpisahan ini..
karena telah memberi warna pada perjalanan hidup kami..

ya Allah,,
kami tau.. persahabatan bukanlah dilihat dari kebersamaan, tapi di setiap untaian do'a untuk sang sahabat..

ya Allah,
jadikanlah kami pribadi-pribadi yang senantisa istiqamah dijalanMu..

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad,
keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.

Allahumma Aamiin..


Lihat Lebih Dekat -Sherina


Hatiku Sedih

Hatiku Gundah

Tak Ingin Pergi Berpisah

Hatiku Bertanya

Hatiku Curiga

Mungkinkah Kutemui Kebahagiaan Seperti Di Sini

Sahabat Yang Selalu Ada

Dalam Suka dan Duka

Sahabat Yang Selalu Ada

Dalam Suka dan Duka

Tempat Yang Nyaman

Kala ku Terjaga

Dalam Tidurku Yang Lelap

Pergilah Sedih

Pergilah Resah

Jauhkanlah aku Dari

Salah Prasangka

Pergilah Gundah

Jauhkan Resah

Lihat Segalanya Lebih Dekat

dan Kubisa Menilai Lebih Bijaksana

Mengapa Bintang Bersinar

Mengapa Air Mengalir

Mengapa Dunia Berputar

Lihat Segalanya Lebih Dekat

dan Kuakan Mengerti




Selasa, 26 Oktober 2010

Dia yang pertama dan yang terakhir

Bismillah. Alhamdulillah. Syukurillah. Masih diberi kesempatan untuk menghirup segarnya udara hari ini dan hangatnya mentari. Masih dititipkan segala nikmat yang takkan sanggup diucapkan. Alhamdulillah wa Syukurillah tak henti-hentinya terucapkan karena diberi kesempatan untuk mengenal agama indah ini, dituntun pada jalan yang mulia. Diperkenalkan kepada Rasulullah salallahu’alaih wasalam, pemberi cahaya ketika gelap gulita. Penuntun ketika kehilangan arah. Subhanallah, maha suci Allah Subhanallahuwata’ala yang memiliki segala keindahan bumi dan seisinya serta menjanjikan lebih indah pada akhiratNya. maha suci Allah Subhanallahuwata’ala, zat yang maha agung yang telah menghadirkan ku ditengah keluarga yang menginspirasi. maha suci Allah Subhanallahuwata’ala yang telah menghadirkan sosok-sosok luar biasa dekat dengan kehidupanku. Dan masih menitipkan akal sehat padaku untuk mengulas cerita tentang sosok yang luar biasa itu. Ibu.

Syurga di telapak kaki ibu. Sebuah ungkapan yang klise tetapi saya rasa tidak berlebihan. Menggambarkan apresiasi tertinggi pada salah satu ciptaan Allah Subhanallahuwata’ala ini. Ibu, mama, bunda, emak, ummi, mbok, atau apapun kita memanggil sosok luar biasa yang satu ini, dialah orang yang pertama memberikan senyum terindah ketika kita lahir didunia ini. Tak peduli, disaat yang bersamaan ia juga merasakan sakit yang luar biasa bahkan mempertaruhkan nyawanya. Lagi-lagi ungkapan klise ini kita dengar “mempertaruhkan nyawa”, tapi itulah yang membuat pembahasan tentangnya selalu menarik. Dialah orang pertama bangun ketika dimalam hari “kita kecil” menangis karena kehausan. Tak peduli pada saat yang bersamaan tubuhnya lesu karena kurang tidur akibat “kita kecil” yang rewel. Dialah orang pertama menghibur kita ketika “kita kecil” merasa begitu sedih dan menangis tersedu-sedu. Tak peduli dia pun sedang rapuh menghadapi problematika hidup yang rumit. Dialah orang pertama menyelimuti kita ketika “kita kecil” kedinginan karena kehujanan pulang sekolah. Tak peduli bajunya basah kuyup oleh air hujan karena memayungi kita dalam perjalanan pulang sekolah. Dialah orang pertama memeluk dan menyium kita ketika kita meraih prestasi gemilang. Tak peduli bahwa prestasi gemilang itu sesungguhnya bermula dari dirinya. Dan ketika kita beranjak remaja. Dialah orang terakhir tidur ketika larut malam kita tak kunjung pulang. Tak peduli badan yang mulai rapuh itupun lelah dan mengantuk. Dialah orang terakhir yang melahap makanannya ketika kita mulai memilih-milih menu makanan. Tak peduli dia pun sesungguhnya sedang menahan lapar. dialah orang terakhir memenuhi kebutuhannya sebelum kebutuhan kita terpenuhi.

**Suatu hari-ketika aku sudah sebesar ini- ketika malam sudah sangat larut. Allah subhanallah wata’ala menurunkan rahmatnya berupa hujan deras diikuti dengan petir yang menyambar-nyambar. Aku tersadar memandang sayup-sayup kearah pintu kamarku, disana ibuku berdiri dengan agak sedikit tergesa-gesa untuk melihat keadaanku. Memantau seisi kamarku, menarik ujung selimutku sampai kakiku benar-benar tertutup, kemudian memastikan keadaan baik-baik saja dan ia pun kembali kekamarnya.

Di tengah-tengah kelelahannya, ia sempatkan untuk terus menjaga kita dan memastikan keadaan kita baik-baik saja.

Tapi, pernahkah kita mengatakan “terimakasih” sekali saja, ditengah hari-hari biasa seperti sekarang bukan ketika ia ulang tahun atau bukan ketika hari ibu? Pernahkah? Ketika ia mencarikan sesuatu yang kita cari. Atau ketika ia membuatkan kita teh saat sarapan pagi. Atau ketika ia mengobati luka kita. Atau ketika ia membuatkan makanan istimewa ketika hari kelahiran kita tiba. Atau ketika ia memijat kaki kita yang terasa pegal. Atau ketika ia menelpon ketika kita tak pulang kerumah karena kegiatan yang padat dan ketika kita sedang keluar kota. Atau ketika ia mencucikan baju-baju kita menggunakan tangan karena listrik sedang mati sehingga tidak bisa menggunakan mesin cuci. Atau ketika ia membelikan kita sepatu baru ketika ia sedang belanja kepasar. Atau ketika ia berdiri di depan rumah seharian menunggu kita pulang dari perantauan. Atau ketika ia memberi restu pada jodoh yang telah datang pada kita walau usia kita masih muda sehingga ia belum siap berpisah dengan kita. Atau ketika ia membantu mengurusi anak-anak kita karena kita terlalu kerepotan mengurusinya seorang diri. Ketika ini. Ketika itu. Pernahkah, sekali saja, kita ucapkan “terimakasih” hanya satu kalimat, pernahkah? Jika memang pernah, berapa kali kita mengucapkannya, sekali, dua kali, sepuluh kali, ketika ia memberikan segalanya pada kita ribuan kali. Bandingkanlah? Tapi tidak kita ketahui bahwa ia tidak pernah mengharapkannya, ucapan satu kalimat itu tidak ia dambakan keluar dari mulut kita. Tapi, coba seandainya kita mencoba mengucapkannya besok pagi. Sekali saja. Ketika kita akan beraktifitas besok. Atau jika kita seorang perantau, ketika kita menelponnya besok pagi coba ucapkan satu kalimat itu. Walau tidak ia harapkan, tapi jika kita mengucapkannya ia akan sangat senang sekali. Menganggap kita masih mengingat jasanya walau ia sendiri telah lupa akan jasanya.

Tentang sosok kita hari ini, siapakah kita sekarang? Seorang mahasiswa berprestasi, aktifis bermental baja bersemangat bara. Seorang pemuda sukses, hidup kaya raya. Seorang walikota, gagah berani banyak pendukungnya. Seorang presiden, pemimpin yang bijaksana. Bagaimana kita hari ini? Itu semua karena sosok luar biasa yang dahulu mewarnai hari-hari kita. Kita bukan apa-apa jika tidak ada dia yang luar biasa.

Ini hanya segelintir kisah dari sosok luar biasa yang bernama ibu. Segelintir. Karena memang akan panjang lebar jika kita ingin mengulas tentangnya, sosok luar biasa.

**Untuk semua calon-calon ibu. tekadkan dihati bahwa kita juga harus menjadi sosok yang luar biasa. Azzamkan diri kita untuk melahirkan kembali Saifullah setangguh Khalid bin Walid. Yakinkan diri kita untuk membentuk khalifah semulia Umar bin Abdul Aziz.

Dari seseorang yang tidak lebih baik dari anda. MaTa ^^

Wallahu a’lam bi shawab

Sabtu, 23 Oktober 2010

Charger Iman


Ketika Seminggu penuh badan ini disibukkan dengan kegiatan menguras tenaga dan pikiran.
Ketika bathin ini mulai bosan pada kehidupan dunia yang fana.
Kala pesona pelangi seakan tak bergairah menampilkan keindahannya lagi.
Ketika gelegar petir tak lagi menggetarkan jantung ini.
Ketika semua itu terjadi.

Halaqoh pekanan menjadi moment yang sangan amat dinanti.

wisata ruhiyah yang menyenangkan.

cambuk diri yang dahsyat.

penghapus dahaga yang menyegarkan.

matahari yang menyinari.

embun yang menyejukkan hati.

menyapu habis segala kemalasan yang mulai menjamur.




~ditulis pada perjalanan panjang menuju sebuah pencapaian.
: : di salah satu halte Busway di sebuah kota industri. 12.14 wib. ditemani terik matahari dan debu yang berterbangan.
dari seseorang yang tidak lebih baik dari anda.
MaTa

Kamis, 21 Oktober 2010

Di Jalan Ini Cintaku Bersemi


Kawan, aku ingin mengajakmu menikmati sebuah kisah perjalanan yang menarik. Juga tentang jalan panjang yang seolah tak pernah ada ujungnya, walau kenyataannya memanglah ada. Hanya saja belum sekarang nampaknya. Bisa jadi tahun depan atau abad depan. Atau bahkan ketika jiwa kita telah terpisah dari raganya.

Jalan panjang yang beronak duri, hingga menjadikan jumlah mereka yang berguguran tidaklah sedikit. Duhai, tidakkah kau tahu? Tidakkah kau lihat? Atau, tidakkah kau yakin kalau di ujung jalan itu ada sebuah tempat yang indah? Mengapa banyak yang memilih berhenti atau bahkan berpaling arah hanya karena takut terinjak duri di langkah-langkah awal? Tidakkah kita sanggup merelakan sedikit kesakitan dan kelelahan ini demi kebahagiaan yang kekal nantinya?

Mengapa banyak yang menyerah, jatuh dan berguguran hanya karena tak sanggup lagi memikul beban ini? Kita bahkan lebih memilih meminta beban yang ringan ketimbang punggung yang kuat untuk menopangnya.

Malu kita pada pejuang-pejuang dakwah terdahulu. Pada Mus'ab bin Umair yang rela melepaskan kemewahan duniawi ketika diutus sebagai duta dakwah pertama, pada Hanzhallah yang begitu peka dengan panggilan jihad hingga rela meninggalkan keindahan malam pertama, juga kepada Abu Dujanah, Sang Ikat Kepala Merah yang mengorbankan tubuhnya sebagai perisai dari panah dan pedang yang menyerang Rasulullah di perang Uhud.

Pundak-pundak dakwah kini rindu semangat Usama bin Zaid yang menjadi panglima perang ketika usianya belum juga genap 20 tahun. Jalan ini rindu darah segar Bilal bin Rabbah yang ketika ditindih batu besar di tengah teriknya gurun pasir sekalipun, ke-Islamannya tak tergoyahkan. Atau, bisa jadi benar kata Khalifah Umar kalau perempuan-perempuan kini telah mandul untuk melahirkan putra setangguh Khalid bin Walid.

Ah, tapi tidak! Aku hampir saja lupa menceritakan kepadamu kawan, bahwa di jalan ini ternyata masih ada mereka yang kadang rela mengabaikan kebutuhan pribadinya demi kepentingan orang lain.

Aku temui mereka di universitas-universitas berpagar hutan ataupun kampus elegan dengan gedung bertingkat. Sering mereka berhimpun di masjid, pun di ruang-ruang sempit yang memojok di gang-gang yang tidak kalah sempitnya. Disebuah negeri yang seharusnya indah di mata dunia.

Maka, bacalah kisah yang kutulis ini. Dengan kebenaran sebagai penanya dan pengorbanan sebagai tintanya.

Di sini… Mereka menjelma sebagai batu bata yang menyusun sebuah bangunan yang akan menjadi guru bagi peradaban. Tahu mereka bahwa batu bata itu bebannya tidak ringan, juga tidak pernah protes kepada kontraktornya, di tingkat berapa ia kan diletakkan. Mereka pun faham, jika menampakkan diri sebagai batu bata hanya akan membuat bangunan tak lagi estetik, hingga mereka rela untuk ditutupi oleh semen.

Dan karena jalan panjang yang mereka tempuh bukannya tidak melelahkan, bukannya tidak menyakitkan, maka pada syahwat mereka belajar menguasai, bukan dikuasai.

Telah mereka kuras air mata, peras keringat, atau bahkan cecerkan darah selama perjalanan ini. Di dada mereka tertanam keyakinan bahwa kelak, ketika di yaumil hisab nanti ternyata amal kebajikan mereka tidak begitu memberatkan timbangan, maka mereka berharap kalau butir-butir air mata, bulir-bulir keringat, dan tetesan darah itulah yang akan menggenapkannya.

Malam hari di setiap minggunya, mereka membentuk sebuah lingkaran diskusi, mempererat ukhuwah, serta meningkatkan kapasitas keimanan yang mereka rangkum dalam sebuah aktivitas yang bernama halaqoh. Ratusan hari mereka berceceran bersama aktivitas ini. Memutar otak memikirkan format terbaik untuk melakukan perbaikan bagi umat hingga terkadang mereka lupa bahwa mereka juga mahasiswa kebanggaan keluarga, yang kepada mereka dititipkan harapan besar akan kesuksesan.

Tapi sering kali pula kau akan menemukan mereka berjuang di jalanan. Berteman polusi, bertetangga dengan bisingnya deru kendaraan, juga akrab dengan megaphone dan spanduk yang bertuliskan kalimat protes.

Demikian terpatrinya jargon dalam ruh-ruh mereka yang akan selalu muda itu, bahwa “Pejuang di siang hari, rahib di malam hari”.

Tidak ada lelah, sebab telah mereka wakafkan seluruh jiwa dan raganya.

Ah, tapi tidak juga, kawan. Terkadang mereka kelaparan juga ternyata. Ya, sebenar-benar lapar. Tapi sadarlah mereka bahwa badan hanyalah bungkusan fisik semata. Maka jangan heran jika kau temukan mereka, kau akan berpendapat sebagaimana orang kebanyakan; bahwa kondisi mereka tidak layak lagi untuk dikatakan “sejahtera” atau bahkan lebih pantas untuk dikategorikan “memprihatinkan”. Karena zuhud itu pilihan mereka. Setidaknya begitulah jalan dakwah mengajari mereka; panjang, berliku, melelahkan dan penuh pengorbanan.

Kawan, padamu aku titip pesan! Saat kau benar-benar bertemu mereka dalam kondisi seperti itu, usirlah pikiranmu seperti orang kebanyakan itu. Sebab merekalah pemuda yang menyala semangatnya, terjaga pandangannya.

Merekalah panah-panah terbujur, yang siap dilepaskan dari busur.

Merekalah pisau belati yang selalu tajam, yang siap dihentakkan dan menghujam.

Merekalah mata pena yang tajam, yang siap menuliskan kebenaran.

Maka, izinkan aku memperkenalkan mereka. Mereka tergabung dalam sebuah barisan dakwah yang bagi mereka, dakwah bukanlah pekerjaan sampingan.

Lahir di tengah sistem sebuah negara yang carut-marut. Korupsi yang kian subur. Kriminal kian menjamur. Kekuatan ekonomi pun nyaris terkubur. Sedang penguasa yang semakin luks vasilitasnya seakan semakin pulas tertidur.

Tapi mereka tak pernah berputus asa, sebab janji Allah akan sebuah kemenangan agama-Nya adalah sebuah keniscayaan.

Merekalah pemuda yang sepertinya sejarah sudah terlanjur menitipkan perubahan kepada mereka. Maka, dengan ruh tarbiyah yang mengalir dari nadi kehidupan, tangan terkepal dengan gagahnya untuk menggemakan takbir di bumi Allah.

Aku, sebagai bagian dari barisan ini, sebagai orang yang ingin hidup dan mati bersamanya, aku beritahukan…

Tak ingin aku mengambil tempat di tengah apalagi terbelakang.

Perkenalkan! Aku, mereka, dan kami semua, tergabung dalam barisan dakwah yang bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Dan suatu hari nanti, saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka yang bercerita tentang perjuangan yang indah. Di mana kita, sang pejuang itu sendiri, tak pernah kehabisan energi untuk bergerak, meski terkadang godaan untuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan.

Saudaraku, kita sudah memulai perkara ini. Maka kita tidak punya waktu yang cukup lagi untuk menundanya. Tak ada alasan lagi untuk tidak menuntaskannya, kecuali jika Allah telah memenangkan urusan (agama) ini, atau kita hancur bersamanya. Sampai ujung jalan itu nampak. Dan ujung jalan itu bernama..., KEMENANGAN! Bergerak, atau... MATI!!! STRUGGLE or DIE!!! Just choose it!

KAMMI itu lapar. Lapar pada semangat juang dalam membongkar tiap jubah penindasan keparat.

KAMMI itu haus. Haus akan gerak perlawanan terhadap ketidakadilan yang membuat rakyat melarat.

KAMMI itu jenuh. Jenuh pada kita yang selalu diam terbuai membiarkan kaum penindas menjadi kerabat.

Moga KAMMI tidak jadi berhala bagi keterasingan diri terhadap realitas.

Maka, satukanlah gumammu pada altar persembahan nan hakiki. Aku berjanji, maka aku menggamit revolusi.


Di salah satu pojok kota Bandung, 16 Oktober 2010,

ketika ombak-ombak cintaku padamu yang sempat pulas di tepi pantai hatiku kembali bergemuruh.


dari notenya Emi Rahyuni

*CoPas Ceritanya ^^

Jumat, 08 Oktober 2010

Meregangkan Otot, Menenangkan Fikiran

Bismillah..

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk menekan tombol-tombol keyboard setelah sekian lama tertinggalkan. cukup mengkhawatirkan mengingat azzam diri ini adalah menjadi penulis produktif, walau entah apa yang akan di tulis. kali ini, tentang sesuatu yang menarik (menurut saya). tentang rutinitas yang sering kita lakukan.

Baik, mula-mula saya ingin bercerita tentang aktivitas saya seminggu ini. sebagai mahasiswi yang baik dan benar, saya harus melaksanakan salah satu mata kuliah yang saya ambil semester ini. Peraktek Kerja Lapangan. tentu saja, ini menjadi hal yang membosankan bagi saya. saya tidak bisa kerja yang terpaku pada peraturan perusahaan yang mengikat. datang jam segini, pulang jam segini. huft. apalagi, malamnya saya masih harus kuliah. alhasil, jadilah saya benar-benar merasakan apa yang selama ini -hampir- tidak ingin saya rasakan. Kuliah, Kerja (kalau dalam sebuah buku di tambah lagi belakangnya dan Nikah). terlebih lagi jika dilihat pengararuhnya dengan badan yang kian mengering ini. semakin terlihat tak berdaginglah jadinya. tapi semua saya nikmati (masak iya?!).

baik, tentang yang ingin saya bicarakan kali ini. tentang tips mudah untuk mengatasi rasa pegal dan ngantuk setelah seharian duduk menghadap komputer, sedangkan malam harinya harus melanjutkan aktifitas kuliah (seperti yang terjadi pada saya). lakukan tips ini minimal 2 kali sepanjang jam kerja anda. misalnya jika kantor anda masuk jam 8.00 dan pulang jam 17.00, anda bisa melakukannya pada jam 12 lebih dan jam15 lebih.

tipsnya...
berkunjung kekamar mandi untuk membasuh muka, tangan, sedikit rambut, telinga serta kaki anda. kemudian ambil tempat yang nyaman dan bersih di kantor anda (biasanya ruangan ini tersedia di kantor-kantor). berdiri tegak sambil menarik nafas panjang, dan relaksasi pun dimulai...

tundukkan sedikit kepala anda ke arah lantai. tarik kedua tangan anda ke atas, cukup sampai di sebelah telinga anda kemudian lipat tangan di dada. tahan beberapa menit dengan membaca bacaan yang -saya rasa- sudah anda hafal. kemudian bungkukkan badan anda sehingga tangan anda bisa memegang bagian lutut, tahan beberapa menit (sambil membaca sesuatu lagi). kemudian kembalikan badan anda keposisi semula dengan tangan lurus kebawa.

selanjutnya, bawa badan anda ke arah lantai dengan posisi kaki menekuk (paha ketemu perut), kepala dilantai dan tangan berada di sebelah kanan dan kiri kepala anda. tahan beberapa saat dengan kembali membaca bacaan yang -sekali lagi- saya rasa anda telah menghafalnya. kemudian duduk dengan posisi menduduki kaki (paha ketemu betis). ulangi gerakan tadi sampai 4 kali.

lakukanlah dengan gerakan yang perlahan dan dengan konsentrasi yang tinggi.
relaksasi ini manjur untuk menghilangkan pegal-pegal disekujur tubuh, terutama dibagian punggung karena terlalu lama duduk. dan dapat mengusir ngantuk. serta meregangkan otot dan menenangkan fikiran.


Relaksasi ini biasa di sebut dengan SHALAT.
Slamat mencoba
















~ternyata, amalan-amalan yang sering kita lakukan itu bermanfaat. baik di perlihatkan secara langsung maupun tidak..
Salam Semangat Selalu
(MaTa) ^^

Senin, 20 September 2010

Masalah ada pada pacarmu.. Putuskan saja dia..

Dia, si gadis manis itu temanku. tak se indah parasnya yang manis, kisah hidupnya selalu terlihat pahit. setidaknya ia sendiri yang membuatnya pahit.

Dia si gadis manis. terlihat selalu bersedih karena masalah-masalahnya. Dia, hampir tidak pernah cerita padaku tentang masalah-masalah itu. karena ia tau aku tak menyukai penyebab masalah itu. terkadang aku tau tentang masalanya dari seorang teman yang bercerita dan kemudian kutanggapi dengan datar. bukan berarti aku tak peduli pada si gadis manis temanku itu. bukan. aku jamin itu. karena aku punya cara lain untuk membuktikan aku peduli padanya.

dan di suatu malam. si gadis manis temanku itu. menumpahkan isi hatinya padaku. sesekali matanya berkaca-kaca dan menangis. oh.. si gadis manis yang malang. aku turut sedih dengan kesedihanmu. kemudian ia meminta pendapatku. menanyakan caraku mengatasi masalah yang kujumpai dalam hidupku. mungkin ia ingin menggunakan caraku.

dan kemudian. ku utarakan pendapatku dan kujelaskan cara yang biasa aku gunakan jika sedang gundah gulana. aku susun kata-kata seindah mungkin. berharap ia mengerti apa yang sebenarnya ingin ku sampaikan. karena aku tak langsung "menembak mati". aku ingin ia sedikin berfikir tentang apa yang aku katakan.

mungkin ia akhirnya paham, bahwa maksud dari penjelasanku adalah "semua masalah ada pada pacarmu.. putuskan saja dia...!!" karena ketahuilah, jika dia tidak berpacaran mungkin masalah-masalahnya yang selama ini tidak akan pernah ada. karena sejauh ia pacaran hanya akan menimbulkan masalah.

si gadis manis temanku. coba pikirkan lagi. masalahmu hari ini. itu tentang pacarmu yang sekarang. masalahmu yang tempo lalu, juga karena pacarmu yang terdahulu. masalahmu yang lain-lainnya. juga karena pacarmu yang lain. cobalah diingat-ingat. benar tidak apa yang ku katakan??

ayolah temanku yang manis. tidak perlu lagi kamu habiskan waktumu, tenagamu, pikiranmu untuk hal yang tidak penting dan untuk orang yang tidak jelas. karena pacaran itu tidak penting teman. dan pacarmu itu tidak jelas kepastian keberadaan disisimu.

ini hanya ungkapan kepedulianku padamu teman. semoga saja Allah melimpahkan hidayahnya kepadamu hingga akhirnya kamu akan kembali kejalan yang benar. karena aku tau, dulu, kamu pernah menjadi benar.

untuk temanku yang sedang gundah gulana. dari temanmu yang mungkin tidak lebih baik..

Senin, 30 Agustus 2010

Maher Zain - The Chosen One | ماهر زين - المختار






THE CHOSEN ONE

In a time of darkness and greed
It is your light that we need
You came to teach us how to live
محمد يا رسول الله

You were so caring and kind
your soul was full of light
You are the best of mankind
محمد خير خلق الله

صلّوا على رسول الله
الحبيب المصطفى
Peace be upon The Messenger
The Chosen One

From luxury you turned away
And all night you would pray
Truthful in every word you say
محمد يا رسول الله

Your face was brighter than the sun
Your beauty equaled by non
You are Allah Chosen One
محمد خير خلق الله

صلّوا على رسول الله
الحبيب المصطفى
Peace be upon The Messenger
The Chosen One

I'll try to follow your way
And do my best to live my life
as you taught me
I pray to be close to you
On that day and see you smile
When you see me

صلّوا على رسول الله
الحبيب المصطفى
Peace be upon The Messenger
The Chosen One

صلّوا على رسول الله
Oh
Peace be upon.. Oh
The Chosen One

Rabu, 11 Agustus 2010

tanpa judul deh

Bissmillah,
Assalamu'alaikum

sore hari menjelang buka puasa..
ingin menulis untuk menunggu waktu buka, ga tau mau nulis apa sebenarnya, tapi saya ingin nulis. gimana donk.. jadi gado-gado sepertinya tulisan ini.

baik, pertama. tentang kakek nenekku dari pihak emak. tepatnya almarhum/mah kakek dan nenek, yang ku rindukan saat ini ketika bulan puasa tiba, apa lagi tadi pagi si emak menceritakan tentang mereka. mm, teringat di kala diri ini masih mungil, lebaran pulang kampung. rumah panggung, kakek yang duduk di anak tangga seakan tau cucu2nya mau datang. dan sepanjang yang saya ingat dulu, dari tahun ketahun setiap kami pulang kampung si kakek selalu dalam posisi yang sama. duduk di anak tangga depan rumah panggung, seakan akan ia tak bergerak sepanjang tahun, tapi tampilan rumah sederhana itu selalu berubah-ubah, warnanya, terasnya atau apalah.. tetapi tetap tidak menghilangkan bentuk aslinya.. huhu rindu rindu..

tentang kampungku, tepatnya kampung emakku. tanjung batu. rumah nenek saya berada didaerah parit wagio. kenapa disebut parit, itu karena se panjang mata memandang, parit membentang. tapi parit bukan sembarang parit, sebenarnya lebih kesungai, karena fungsinya hampir sama kayak sungai, untuk nyuci dan mandi tapi tidak lebar (sempit/kecil) makanya disebut parit. nah.. parit ini letaknya di depan rumah. jadi begini deskripsinya. ada sebuah jalan yang kanan kirinya rumah-rumah tetapi wilayah rumahnya sangat lebar, dari rumah satu ke rumah lainnya ada yang dipisahkan dengan kebun karet kalo teriak manggil tetangga pake toa' baru bisa dengar. nah jadi, dipinggir jalan itu ada parit yang panjangnya sepanjang jalan. jadi jalan dan parit berdampingan (kebayangkan). dari jalan mau masuk ke halaman rumah ada jembatan kecil untuk melewati sungai itu. jadi setiap rumah punya satu jembatan. kemudian masuk kehalaman rumah, tentang halaman rumah ini hadirin sekalian. jika berminat mengayuh sepeda ontel milik kakek dan berkeliling halaman depan, dua putaran saja, sudah cukup membuat anda keringatan. luasnya bukan main. hampir disetip rumah betengger pohon kelapa di halamn rumahnya. jadi jika anda lelah bersepeda ontel ria maka mintalah Bapak anda untuk mengambilkan kelapa muda dan memotongnya ala pantai dan nikmatilah nikmatnya kelapa muda itu. saya pernah mencobanya. nikmat .
kemudian, di sebelah kanan rumah dengan jarak beberapa meter, ada hamparan kebun nanas yang panen tiap minggu, dan nenek akan dengan senang hati membuat air buah nanas untuk cucu2nya yang lucu. di sebelah kanan rumah agak kebelakang, ada kamar mandi beratapkan daun kelapa kering dan berdinding sulaman daun (lupa nama daunnya). sebelah kiri rumah agak kebelakang ada kandang ayam dan kambing serta pohon kapas dan jeruk nipis.
nah.. bagian yang hampir tidak terjamah olehku adalah belakang rumah. ada hamparan kebun karet. luas. ujung kebun itu berada di ujung kampung sebelah. dimalam hari kebun itu suram. seperti hutan terlarang milik sekolahnya Harry Potter. tetapi saya pernah berkunjung di ujung kebun itu, karena ada deretan pohon rambutan disana. pernah suatu ketika, di pagi hari, kami para cucu2 yang lucu berbondong-bondong menuju pohon-pohon rambutan yang buahnya telah tumpah ruah. dengan membawa tudungsaji kami siap beraksi. panen rambutan. tudungsaji besar itu kami isi penuh dengan rambutan. jadilah, pagi itu kami sarapan buah rambutan yang merah merona. maknyus...

oke, selanjutnya.. tentang menu ta'jil hari ini. mendoan tempe sambel kecap cabe rawit. dahsyat. menu2 lainnya kalah deh pokoknya..
wah.. kenapa tentang makanan semua ni tulisannya, hoho. maklum detik detik mau buka puasa. ^^

udah ah..
ga tau lagi mau nulis apa.
cukup sekian tulisan yang bisa saya tuliskan kali ini, insyaAllah kita akan ketemu lagi dilain waktu..
terimakasih
wassalamu'alaikum

^^

Rabu, 04 Agustus 2010

Tempat Impian

Bismillah....

dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
kembali merangkai kata-kata untuk sekedar mengungkapkan isi hati, terlepas dari pengunjung blog ini yang lagi belajar ber-0rasi, teriak-teriak ga jelas minta blog ini di update (nyebelin banged tu orang) ya terlepas dari itu semua, saya hanya ingin corat coret. mengalihkan pandangan dan pendengaran dari fenomena "keong racun" yang tlah menggelegarkan jagad raya (lebay mode ON).

akhir-akhri ini saya selalu dibayang-bayangi tempat-tempat idaman saya, yang sangat ingin saya kunjungi, dan semoga saja bisa saya kunjungi. dengan coretan ini, dengan bangga saya jabarkan tempat-tempat yang menjadi impian saya jika Honeymoon nanti (hahayyyy:)

yang pertama, dari pulau sumatera tempat kuberpijak..
ACEH....

awalnya karena terpesona dengan tarian rampaknya, masjid rayanya, penasaran dengan budayanya yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai islam. bencana tsunami tak memudarkan pesonanya.. juga karena penasaran mau berdiri diujung negara ini, Sabang...


yang kedua, tetangganya pulau turis..
LOMBOK menohok...
walau tetanggaan dengan bali, tapi saya lebih tertarik dengan kota PEDAS ini (jawa made ON). Pantainya, menurut TV-TV, keren banged... rakyatnya yang punya tradisi makan tanah, membuat saya berambisius sekali berkunjung kesana. ingin sekali bilang "makanlah makanan yang halal wa thoyib, tanah itu halal tapi La thoyib" :D





dan selanjutnya, terinspirasi dari lagu daerah favoritku "yamko rambe yamko"
PAPUA nan menggoda...

setelah sabang, kini marouke. biar terkesan keliling indonesia, tapi berkunjung ke ujung-ujungnya aja pun jadilah... lagi-lagi karena "penasaran" (saya sampai pernah dijuluki Miss Penasaran gara2 kata ini) dengan budayanya, masyarakatnya yang jauh dari modernisasi. walau mengerikan sih ngeliat kehidupan mereka yang ditayangkan di TV-TV, tapi tetap kian menggoda.



beranjak keluar negri, negara canggih..
JEPANG...



ini dia, tempat impian dari jaman saya kecil. bermula dari tergoda dengan bunga indahnya, sakura. Gunung tertingginya, Fuji. bahasanya. segala macam kecanggihannya. saya rasa bukan hanya saya yang mengimpikannya.





selanjutnya, negara yang tlah luluh lantak tapi keindahannya takkan pernah pudar
PALESTINA...
negri yang tercinta, tanah suci umat islam, kiblat yang pertama. palestina mengalihkan duniaku. semakin luluh lantak semakin rupawan. wajah kotanya indah nan mepesona. palestina.. geregetan saya dibuatnya..


Timur tengah,
MESIR...
bermula dari pelajaran IPS jaman SD tentang Piramida. dan "ayat-ayat cinta" pun berhasil membuat penasaran saya membuncah. Sungai nil. alexandria. sempurna menghipnotis pikiran saya untuk terus memimpikannya.



dan tentunya, kota impian umat islam
MEKAH...
tak usah saya ceritakan tentang pesonanya disini. karena bisa anda liat di Sirah Nabawiah, atau di mana saja. yang jelas. satu hal yang ingin saya ungkapkan. indahnya tak lekang dimakan waktu.





oke, untuk sementara itulah tempat-tempat impian saya yang ingin saya kunjungi. seiring dengan berjalannya waktu mungkin saja tempat-tempatnya akan terus bertambah.

(MU)